Anekdot anekdot selama di Pondok
Posted by Rozi on May 26, 2010
Jika antum para alumni punya pengalaman lucu, sedih atau apa saja yang dianggap menarik atau mengesankan selama di Nurul Hakim’ mohon berbagi. Ana mau nulis buku anekdot-anekdot di Pondok Pesantren Nurul Hakim.
Sebabai contoh; Gurfah Al-Ghuroba diketuai seorang senior bernama X. Ketika itu kami masih di pondok timur dan masak sendiri. Sang ketua sangat berkuasa. Setiap kami masak sayur beliaulah yang pertama kali mengambil sekehendak hatinya kemudian dimasukkan ke dalam lemarinya. Telah lama kami merasa kesal dengan kelakuan sang ketua tapi apa daya.
Salah seorang santri mebisiki ‘Kita taruhkan daun cahar pada sayur yang kita masak biar kapok’” ujarnya. Dan benar saja sang ketua terberak berak dibuatnya. Keesokan harinya wajah ketua kami pucat, kurus seketika. Kasihan beliau dehidrasi berat….
Nama ketua itu tidak usah disebutkan.
Rozi said
di gumarang juga nich ceritanya, di ruang abdurrahman bin auf.
Setiap malam jum’at diadakan muhadaroh di setiap ruangan, ada seorang teman sedang sakit gigi. Rutin juga setiap muhadaroh ada yang dihukum oleh mudabbir pusat. Pada malam itu datang mudabbir keamanan, langsung memanggil 3 orang teman saya, salah satunya adalah teman saya yang sakit gigi itu. mereka disuruh berdiri di depan kami, langsung saja tangannya mudabbir itu melayang ke pipi masing2 teman saya itu. Tiba2, teman saya yang sakit gigi itu langsung pingsan setelah ditempeleng. Sang mudabbir tak mau tau, dia sangka teman itu sengaja pingsan. main kabur aja mudabbir itu.
ga tau ini lucu apa ga ya?..
masih banyak yg lain.. ntar diingat2 lagi..
Abu Abdurrahman Al-Azhari said
USTADZ…, ITU BANTAL
Sebagaimana bisa, selepas shalat subuh berjamaah, ustadz …, inspeksi dari ruangan pondok satu ke ruangan pondok yang lain menenteng sebatang rotan. Ketika itu kami di pondok timur, menempati rumah besar yang terletak antara Rumah Bapak Ustadz Shafwan Hakin dan Ustad H.Syukron sebagai asrama. Tersebutlah seorang santri yang paling malas shalat subuh berjamaah bernama HS dari sebuah desa dekat terminal Sweta. HS langganan tetap cambukan rotan ustadz… Dan setiap kali kakinya kena cambuk, kantuknya seketika sirna, kemudian ia sujut seperti orang primitif memuja berhalanya, memohon belas kasihan.
Pagi itu, beberapa pukulan rotan tidak membuatnya bergerak apalagi mengaduh. Ketika ustadz menarik selimutnya, ternyata ustadz hanya memukul bantal….
Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam pikiran ustadz. “Cari HS sampai ketemu…” perintah beliau sambil melangkah keluar asrama kami. Eee… ternyata HS di atas sebatang balok yang melintang di langi-langi kamar asrama menyaksikan adegan lucu itu menahan ketawa….
Abu Abdurrahman Al Azhari said
DULU USTADZ KABIR ITU MENANGIS KETAKUTAN DI DALAM PODIUM
Siapa yang menyangka kalau ustadz Fulan yang kini sangat disegani di daerahnya itu, dulu pernah menangis ketakutan saat memperkenalkan diri dihadapan Ustadz Shafwan Hakim hafizahullah dan kami para santri Nurul Hakim. Kejadiannya sekitar tahun 1978. Penerimaan santri baru sudah berahir. Sebagaimana biasa ba’da subuh para santri baru memperkenalkan nama, asal daerah dan bio data lain yang dianggap perlu. Boleh juga santri menyampaikan hobby dan cita-cita serta motivasinya masuk di PP.Nurul Hakim.
Dipanggillah seorang santri baru berinisial AH. Dengan muka pucat dan kaki gemetar melangkah ke podium. Air muka mengeras, dan berkeringan di pagi yang dingin itu. Dia mengucapkan salam dengan suara yang hampir tak terdengar, kemudian dijawab para santri dengan suara gemuruh. Tiba-tiba saja santri AH yang baru mengucapkan salam, tenggelam perlahan ke dalam podium, terduduk memeluk lutut. Wajahnya ditekuk, air matanya mengalir. Santri senior memanggil, memintanya keluar dari dalam podium tapi dia diam seribu bahasa. Setelah di jemput, barulah dia keluar. “Saya takut..” ujarnya.
Abu Abdurrahman Al Azhari said
ULAH GURU JEMBATAN KELEDAI
Ini cerita seorang guru kesenian di kelas satu Aliyah NURUL HAKIM, yang kami gelari guru jembatan keledai.
Gelar ini kami sematkan karena selalu memakai rumus jembatan keledai untuk memudahkan kami menghapal kunci not balok maupun angka. Contohnya Gado-gado Jakarta Enak Amat Banyak Fitamin C-nya, untuk kunci G.J.E.A.B.F.C.
Ada adatnya yang kurang kami sukai, pertama suka duduk di meja siswi. Dan yang lebih tidak kami sukai adalah suka mencubit pipi siswi, apalagi siswi yang agak mulus,gitu.Karena ulahnya ini dilakukannya berulang kali, akhirnya kami jengkel. Pada suatu hari kami baikot, kami tidak mau masuk kelas.
Beliau tersinggung dan marah, kemudian mengadu pada mudir. Akibatnya kami di hukum jemur hingga selesai shalat jama’ah zuhur. Anak-anak Tsanawiyah yang masuk siamh menonton kami sambil berteriak;”dijemur ni yeee”. Rasanya malu sekali. Kamipun minta maaf. Keangan itu masih teringat sampai sekarang.. he..he..he..
Mansub H. Azhari said
Ustadzah saya mau mene’
Ustadz Ridwan Shagir dari rumak dipercayai memimpin Ibtidaiyah sore di Nurul Hakim. Siswanya banyak dari kampung bangket dalem dan sekitarnya. Salah seorang Ustadzahnya waktu itu Ustadzah Muharroroh. Beliau salah seorang guru yang dikirim dari DDII Jawa Timur. Maklumlah orang baru, jadi beliau belum bisa bahasa sasak. Pada suatu hari seorang anak perempuan di kelas beliau minta izin buang air kecil. “Bu Ustadzah saya mau minta izin mau meme’” ujar anak itu. Seketika beliau bingung. “Jangan mene’ nanti jatuh.” jawab beliau. Namun anak itu berkeras mau keluar dan sang ustadzah berkeras tidak mengizinkan. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Ibu ustadzah kebingungan. Beliau segera melapor ke kantor. “Tolong pak ada anak perempuan mau mene’, saya tidak kasi izin takut jatuh dari pohon,” ujar sang Ustadzah. Kami para dewan guru tertawa. “Wah gawat anak perempuan itu bisa mene’ di kelas” komentar seorang ustadz. Dengan kebingungan Ustadzah Muharroroh balik lagi ke kelas dengan seorang ustadz. Dan bener saja ternyata anak perempuan itu telah mene’ di dalam kelas. He…he.. he…
lukman hakim said
kena hukuman
aku selalun d notak kin ma ustad ampe tanya ibu,,,aku
aku kenapa botak ,,lalu berkomentar aku mau jadi calon polisi rambut aku gak perna panjang sampai keluar tapi itu sebagai pelajaran dalam hidup nya aku,,
Futaki said
Futaki, panggilan Ustadz Shafwan Hakim hafizahullah kepadaku. Panggilan ini diambilnya dari nama tokoh muslim negeri Sakura, Sauki Futaki. Inak tuan memanggilku dengan sebuah kata singkat’Jepang’
Sebagai santri kurang mampu, aku berhidmat di rumah beliau.Mengerjakan apa saja yang bisa aku kerjakan. Menimba air, menguras wc, menyeterika pakaian, memijat dengan cara menginjak Ustadz dan tidak jarang di ajak ke pasar cakra oleh beliau membeli ikan asin dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Putra putri beliau seperti Atun Lubna,Jahid,Khalid dan firdaus, mereka semua masih kecil-kecil ketika itu. Khalid Makki paling sering digendong beliau ke masjid dan diletakkan disamping tempat shalat, saat mengimami jamaah masjid.
Itulah sebagian kenang kenangan indahku selama menjadi santri di Nurul Hakim tahun 1977 sampai 1983.
Mansub Bengkel said
Pakaian Mudir Hilang!
Saya sangat bersyukur karena dapat membantu pekerjaan rumah tangga pada keluarga Ustadz H.Shafwan Hakim Hafizahullah. Menimba air, melayani tamu, membawakan belanjaan beliau saat belanja di pasar cakra.
Ada tugas yang cukup rutin, menyeterika pakaian beliau, khususnya pakaian-pakaian luar. Ada dua jenis pakaian yang paling sering saya seterika. Pertama satu setel safari berwarna abu kebiruan. Ini seragam beliau sebagai anggota DPRD Lombok Barat.Celana panjang seragam ini sudah koyak pada bagian maaf pantatnya , ditambal dari dalam dan warnanya pun juga sudah memudar. Satu lagi baju batik berwarna coklat kekuningan walaupun sudah sangat tipis karena terlalu sering dicuci dan diseterika namun warnanya tetap cerah. Begitu sederhanany beliau.
Oh ya.. sehubungan dengan pakaian yang diseterika ini pernah ada peristiwa yang lucu juga mengesankan; Pakaian Ustadz Shafwan yang baru rampung saya seterika menjelamg jam 1.30 dinihari, hilang dari tempatnya, digondol maling. Saya panik, bingung , malu,cemas dan sejuta rasa bercampur jadi satu. Ibarat permen nano nano rame rasanya.
Walah…, malang nian nasib badan. Terbayang wajah ustadz yang kebingungan karena seragam kantornya hilang akibat kecerobohan saya. Belum lagi pakaian beliau yang lain.Waduh…
Saya peluk kedua lutut. Wajah saya tertekuk bertumpu diatasnya. Air mata saya bercucuran deras seperti aik kokok babak.
Ketika semua santri berangkat ke masjid. Saya tulis surat, begini bunyinya:
“Assalamualaikum wr. wb.
Bapak… yang ananda hormati!
Ananda mohon maaf beribu maaf. Ananda khilaf dan lalai sehingga pakaian Bapak hilang dibawa maling. Ananda takut dan malu bertemu muka dengan Bapak. Oleh sebab itu, ananda tulis surat ini sebagai wakil ananda menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan. Ananda mohon diizinkan pulang untuk mencari uang buat mengganti pakaian Bapak. Sekali lagi mohon maaf beribu maaf…
Wassalam
Ananda Mansub”
Surat itu saya lipat dengan tangan gemetar dan air mata yang terus bercucuran.Saya tinggalkan surat itu di atas bantal di dalam pondok. Saya lari kearah utara menembus gelap pekat waktu menjelang subuh. Saya melintasi pasar,menyebrangi Kokok Babak,menaiki tepian suangai kokok Babak ke kampung Karang Sembung dan kampung Begende lalu Desa Bengkel.
Saya ketuk rumah. Bapak dan Inak belum bangun. Dia kaget karena ada orang mengetuk pintu menjelang subuh. Dan lebih kaget lagi ketika melihat saya pulang menangis dengan wajah pucat.
“Ada apa… ada..apa” ujar mereka gugup. Lidah saya kelu tidak bisa menjawab. Saya hanya bisa menangis…
Kok dramatis sekali ya?
Matahari pagi bersinar cerah. Udara bersih dan segar. Tapi bagi saya itulah pagi yang paling muram dan menyesakkan.
Dalam kebingungan, Si Zul dari desa Turida utusan dari pondok mengucap salam dengan wajah cengengesan.
“Soooooop…,dipanggil ustadz.”
“maaf saya takut dan malu Zul, soalnya pakaian ustadz saya hilangkan.”
“Malingnya sudah ketangkap dan babak belur. Sekarang malingnya diamankan di sektor. Tenang saja pakaian sudah dibawa ke rumah ustadz.”
‘Alhamdulillah ya Allah…”
Saya temui Ustadz Shafwan di rumah beliau. Dan ketika beliau melihat mata sipit saya yang bertambah sipit karena tangis, beliau tertawa hingga nampak gigi gerham bagian atasnya yang ompong.
Ternyata beliau sendiri yang mengambil pakaiannya di pondok yang pintunya terbuka lebar.
“Mangkanya kamu harus hati-hati “PUTAKI”.”ujar beliau.
USMAN said
Pak Daeng Genit
Nama saya Usman. Saya tidak tinggal di Pondok Nurul Hakim. Saya hanya sekolah di Tsanawiyah dan Aliyahnya saja. Meskipun begitu saya sesekali minap di pondok.
Ada pengalaman saya yang tidak terlupakan sehubungan dengan salah seorang guru kesenian bernama pak Daeng. Guru kesenian yang satu ini sangat senang melihat murid murid yang ganteng. Karena sikapnya pada murid yang ganteng selalu manis. Saya termasuk salah seorang yang diperlakukan istimewa. Oleh karenanya timbul gosip yang tidak tidak. Kurang ajarnya lagi, mengapa gosipnya hanya kepada saya saja, padahal murid lain yang ganteng diperlakukan baik juga seperti saya.
Barangkali ini salah satu sebab mengapa sekarang ada fatwa MUI mengharamkan gosip.
Gosip kurang ajar itu, masih saja membuat saya kesal.
I LOVE YOU NURUL HAKIM
I LOVE YOU ALL.
IRFAN KELANA said
CINTA PLATONIK IRFAN DAN RAFIKAH
Secarik kertas dilemparkan seorang sanri putra ke halaman Mudir tepat di depan seorang gadis/santri putri, mirip artis Bollywood bernama Rafikah. Surat itu ditulis dengan penuh perasaan cinta. Begini bunyinya;
‘TELAGA DALAM RIMBA HENING SUNYI ITU ADALAH HATIKU.
PERMUKAAN AIRNYA TENANG DIBELAI ANGIN WAKTU YANG BERINGSUT PERLAHAN.
PENDAR CAHAYA MENTARI YANG MENELUSUP DI SELA DEDAUNAN MENCIUM LEMBUT PERMUKAAN DANAU HENING ITU.
CAHAYA MENTARI ITU ADALAH PERUMPAMAAN HIDAYAH, ILMU DAN HIKMAH YANG MENGHANGATKAN BERSAMAAN DENGAN BERLALUNYA SANG WAKTU DI RIMBA ILMU NURUL HALIM INI…..
DUHAI BINTANG ZAHRA YANG BERBINAR SAAT FAJA…
KETENANGAN DAN KEHENINGAN ITU MASIH TERPELIHARA HINGGA SEPEKAN YANG LALU.
SEKARANG TIDAK LAGI.
TATAPAN SIHIRMU
SAAT PANDANGAN MATA KITA BERADU TAK SENGAJA,
SEMOGA ALLAH MENGAMPUNIKU….
TELAH MENGUSIK KETENANGAN TELAGA HATIKU.
TAHAJJUDKU TELAH MENJADI HAMBAR,
MUROJA’AHKU KACAU BALAU
TAPI SUNGGUH INI BUKAN SALAHMU.
APA YANG SEDANG TERJADI DENGAN DIRIKU….?
MENGAPA DI SETIAP TEMPAT
ENGKAU SELALU NAMPAK
DALAM WUJUD SEORANG DEWI DARI PUNCAK GUNUNG OLIMPUS DI ATHENA ATAU DEWI IRIS DAN CLEOPATRA DARI LEMBAH NIL.
AKU TELAH MEMBACA BANYAK NOVEL SEUMPAAMA
LAILA MAJNUN, ROMEO DAN JULIET, TENGGELAMNYA KAPAL VANDERWICNYA BUYA HAMKA ATAU NOVEL BERMANDI CAHAYA BULANNYA A,HASMY.
TAPI AKU SAAT INI MERASA LEBIH QAIS DARI QAISNYA LAILA
ATAU LEBIH ROMEO DARI ROMEONYA JULIET.
TAHUKAH ENGAKAU…
BAHWA PANDANGAN MATAMU YANG DITANGKAP RETINA MATAKU
MENELUSUP MENEMBUS JARINGAN SYARAFKU DAN JATUH DIATAS KEBENINGAN TELAGA HATIKU.
PADA MULANYA SEPERTI SEHELAI DAUN YANG JATUH DI PERMUKAAN AIR DAN MENINIMBULKAN RIAK-RIAK KECIL,
NAMUN DARI WAKTU KE WAKTU RIAK-RIAK KECIL ITU TELAH BERUBAH MENJADI GELOMBANG PASANG YANG DAHSYAT.
MENGHANCURKAN SELURUH SISI PERTAHANAN YANG TERBANGUN RAPI SELAMA INI.
SEKALI LAGI MAAF,.. ENGKAU TIDAK BERSALAH.
DAN MAAFMU UNTUK YANG KESEKIAN KALINYA PADAKU
YANG MEMBERITAHUKAN PERASAAN INI PADAMU.
MELIBATKANMU DALAM URUSANKU.
MENYERETMU UNTUK SEDIKIT BEREMPATI ATAS DERITAKU.
JANGAN KAU BALAS SURAT INI BILA ENGAKU SUKA MAUPUN TIDAK.
SEBAB KEDUANYA AKAN MENJADIKANKU SEMAKIN TERPURUK.
JIKA ENGAKAU INGIN MENOLONGKU, SELIPKAN SEBAIT NAMAKU
DALAM DOA TAHAJJUDMU……
AGAR AKU MEPEROLEH HIDAYAH DARI ROBB-MU, ROBB-KU DAN ROBB SEKALIAN ALAM.
DARI AKU
IRFAN
PIGONG said
Namaku Safi’i. Teman-teman memanggilku pigong. Aku tidak termasuk santri pilihan. Biasa-biasa saja. Dikatakan bodoh tidak juga, dikatakan pinter juga tidak. Otak saya memang rata-rata gitu. Tapi kalau ada santri yang bandel itu bagian saya. Saaaya jewer atau saya jitak mereka.
Ada pengalaman mengesalkan di Nurul Hakim. Diantara sekian banyak yang saya jitak rupanya ada yang ngerjain saya. Kolor saya di olesin cabe, sialan. Meskipun saya telah memaafkan anak yang kurang ajar itu, tapi sampe sekarang saya masih penasaran. Bayangkan sudah kurang lebih 30 tahun kejadian itu tidak pernah bisa saya lupakan.
IRFAN KELANA said
CINTA PLATONIK…. PART II
Mennggu jawaban dari Rafikah, Irfan Kelana bingung.Waktu berputar seperti roda pedati yang ditarik kerbau tua yang tertatih tatih.Bencikah Rafikah kepadanya setelah membaca suratnya?. Dia menarik napas seperti orang asma bertemu udara dingin. Sebentar duduk, sebentar beriri. Dia berputar putar seperti anjing dihinggapi kutu sapi. Kasihan irfan. Di dalam kamar di menatap lngit-langit kamr berlama lama. Dia seperti orang kerasukan. Hiruk pikuk sekelilingnya tak mengganggunya sama sekali. Benar-benar harus di rukyah biar waras.
“aku menyesal…,mengapa menyuruh Rafikah tidak membalas suratku. Ah , mengapa aku begitu bodoh. Ya Allah..ada apa denganku.” Dijambaknya rambutnya agar kepalanya bisa berfikir lebih waras. Sayang harapannya sia-sia. Dia masih saja kebingungan. Sesekali matanya menatap ke rumah mudir dengan harapan ada Rafikah gadis mirip Kajol bintang Bollywood melintas.Sayang gadis yang diharapkannya tak kunjung terlihat. Banyak memang santri putri lain yang llu lalang di depan rumah mudir sambil melirik kearah pondok putra tapi bukan Rafikah. Ya bukan Julietnya si Romeo, bukan Lailanya si Qais, bukan Hayatinya Angku Zainuddin dan tentu saja bukan Rafikahnya si Irfan Kelana.
Sore menjelang magrib, saat lembayung merona langit,Irfan Kelana duduk sendiri di lanti dua menatap awan berbagai wujud.Seseorang mengejutkannya.
“Irfan, anta dipanggil mudir, sekarang!.” Suara itu keras dan tegas. Ternyata Lalu Muharam,ketua pondok putra.Seketika wajah Irfan pias. Bingung, takut, ngeri, tersayat,berbaur dalam gundahnya yang semakin menggunung. Ada apa?
bersambung……